“orang yg berasal dari Kifl”. Sedangkan Kifl itu sendiri, masih menurut Kalam Azad, merupakan nama Arab untuk Kapila (singkatan dari Kapilavastu).
Nabi Sulaiman AS lahir sekitar tahun 975-935 SM, sedangkan Sidharta
Gautama lahir pada tahun 623 SM. Tampak ada korelasi antara Sulaiman AS
dan Ratu Balqis yang kemudian berketurunan hingga melahirkan
keturunan-keturunan Nabi hingga kepada Nabi Akhir Zaman yaitu Muhammad
SAW. Keturunan Nabi sulaiman AS dan Ratu Balqis yang bernama Nabi
Zulkifli diduga kuat adalah Sidharta Gautama. Zulkifli adalah seorang
guru yang memiliki kesabaran tingkat tinggi. Dalam bahasa Arab Zulkifli
sendiri berarti
Pada akhir abad ketujuh S.M. (tahun 623 S.M.), lahirlah seorang yang
bernama Siddhartha Gautama di bandar Kapilavastu/Kapilavathu (Kapil,
lidah Arab menyebut Kafil @ Kafli). Siddhartha Gautama merupakan putera
kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari
keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesastrian dan memerintah
Sakyas berdekatan negeri Nepal. Manakala Permaisuri Maha Maya pula
adalah puteri kepada Raja Anjana yang memerintah kaum Koliya di bandar
Devadaha.
Dalam agama Buddha, perkataan Buddha bermaksud ‘seorang yang bijaksana’
atau ‘dia yang mendapat petunjuk’. Kadang kala istilah ini digunakan
dengan maksud ‘nabi’. Gautama Buddha pernah menceritakan kedatangan
seorang Antim Buddha. Perkataan Antim bermaksud ‘yang terakhir’ dan
Antim Buddha bermaksud ‘nabi yang terakhir’ (Antim terakhir yang
dimaksudkan ialah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir). Pada
saat kematian Gautama Buddha, beliau memberitahu perkara ini kepada
pengikut setianya bernama Ananda.
Makna “Nabi” dalam bahasa Arab (berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”;
karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang
jauh). Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana
yang difahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat
diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.
Pertanyaannya adalah bagaimana korelasi antara Borobudur dengan
kelahiran Sidharta Gautama yang kemudian terkenal berasal dari India?
Nah, itulah yang saat ini saya belum sanggup menjawabnya.
Dari sisi kemungkinan, pertama adalah bahwa Nabi Sulaiman wafat di
Borobudur saat mengawasi prajuritnya yang berasal dari jin dan manusia.
Kedua, setelah menikah Ratu Balqis bersama anaknya tinggal di Jawa yang
kemudian berketurunan Sidharta Gautama (Zulkifli). Ketiga, Salah satu
keturunan Sulaiman AS berpindah tempat ke daerah India untuk berdakwah
hingga berketurunan Sidharta Gautama (Zulkifli).
Benarkah Buddha itu disebut dalam Al-Qur’an? Sebenarnya tidak ada kata-kata “Buddha”
dalam Al-Qur’an, namun menurut Dr. Alexander Berzin bahawa terdapat
catatan para sejarawan dan peneliti yang mengaitkan beberapa ayat
Al-Qur’an dengan Sang Buddha, yaitu pada maksud ayat;
“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan
demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia
ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari)
pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah
Hakim yang seadil-adilnya?”(At-Tin 95 : 1)
Beliau menjelaskan bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s.
(Jesus, Kristian). Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi. Kota
Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Manakala pohon Tin (fig)
pula melambangkan apa?
Tin (fig) = Pohon Bodhi
Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Al-Qasimi
di dalam tafsirnya berpendapat bahawa sumpah Allah SWT dengan buah tin
yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga berpendapat
sama dengan al-Qasimi bahawa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di
dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah
mengapa sebahagian ilmuan Islam meyakini bahawa Buddha telah diakui
sebagai nabi di dalam agama Islam.
Manakala Hamid Abdul Qadir, seorang sejarawan abad ke-20 mengatakan
dalam bukunya Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya (Arab: Budha
al-Akbar Hayatuh wa Falsaftuh), menjelaskan bahawa Buddha adalah nabi
Dhul-Kifl, yang bererti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul-Kifl @ Zulkifli disebutkan 2 kali dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya’ 21: 85).
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Shad 38 : 48).
Belum dapat dipastikan bahwa Zulkifli itu Buddha, dan belum bisa
dipastikan pula bahwa Siddharta Gautama itu merupakan keturunan dari
Sulaiman AS dan Ratu Balqis. Ini adalah ilmu otak atik gathuk yang
kemungkinan besar memang salah dan ada sedikit kemungkinan kebenarannya.
Hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui.
sumber: http://sejarah.kompasiana.com/2013/10/29/siddharta-gautama-keturunan-sulaiman-dan-ratu-balqis-603287.html
Benarkah Sidharta Gautama Anak Dari Nabi Sulaiman Dan Ratu Bilqis?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment